Puisi tidak hanya sekadar menjadi rangkaian kata-kata indah yang disusun dengan rapi di setiap barisnya. Di balik setiap bait yang ditorehkan, tertuang pengalaman, keresahan, harapan, hingga kritik terhadap realita kehidupan. Berangkat dari semangat tersebut, Bidang Minat dan Bakat Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Universitas Diponegoro berkolaborasi dengan Diftong Art Company untuk menyelenggarakan Selebrasi Hari Puisi 2026 dengan tema “Darah Meratap Merah” sebagai bentuk peringatan Hari Puisi yang dirayakan setiap tanggal 28 April. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi sastra sekaligus wadah bagi para penyair muda untuk mengekspresikan gagasan mereka melalui berbagai bentuk pertunjukan puisi dan seni pertunjukan.
Mengusung tema “Darah Meratap Merah”, penyelenggara ingin menghadirkan sebuah perayaan puisi yang tidak hanya menampilkan keindahan bahasa, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi puisi sebagai media refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan. Menurut keterangan Raudhat Aishi selaku Ketua Pelaksana dari acara ini, kolaborasi dengan Diftong Art Company dipilih sebagai upaya memperluas jangkauan audiens sekaligus menghadirkan konsep pertunjukan yang lebih beragam. Dengan menggandeng komunitas seni ini, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjembatani sastra dengan masyarakat yang lebih luas sehingga puisi tidak lagi dipandang sebagai karya yang eksklusif, melainkan sebagai media ekspresi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rangkaian acara dalam Selebrasi Hari Puisi 2026 menghadirkan berbagai bentuk pertunjukan, mulai dari pembacaan puisi konvensional, musikalisasi puisi, teatrikalisasi puisi, hingga berbagai performing art. Keragaman bentuk pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa puisi mampu menjadi berbagai media seni tanpa kehilangan esensi sebagai penyampai pesan. Setiap penampilan mengangkat sudut pandang yang berbeda, namun tetap berangkat dari benang merah yang sama, yakni pengalaman manusia dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Isu-isu yang diangkat dalam kegiatan ini pun cukup beragam. Selain menghadirkan tema romansa, berbagai persoalan sosial seperti hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan lingkungan menjadi fokus utama dalam sejumlah karya yang dipentaskan. Melalui tema-tema tersebut, para partisipan diajak untuk mengolah pengalaman pribadi maupun fenomena sosial menjadi karya sastra yang mampu menggugah empati sekaligus membangun kesadaran bersama. Dengan melibatkan peserta mulai dari jenjang SMP hingga SMA sederajat, kegiatan ini menjadi ruang yang inklusif bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan mereka melalui sastra.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian berasal dari Atikah, partisipan yang telah aktif mengikuti Selebrasi Hari Puisi sejak penyelenggaraan tahun sebelumnya. Berbeda dari penampilan-penampilannya terdahulu yang lebih banyak mengangkat tema kritik sosial dan kemarahan, kali ini ia memilih membawakan puisi berjudul “Ratapan yang Diperkosa Sunyi Lalu Dilahirkan Sebagai Sastra”, sebuah karya yang lahir dari refleksi personal mengenai ketulusan, luka, dan proses penyembuhan diri.
Puisi tersebut mengisahkan seseorang yang terbiasa mengutamakan kepentingan orang lain hingga akhirnya menyadari bahwa kebaikan yang diberikan tidak selalu memperoleh balasan yang sepadan. Alih-alih menyalahkan orang lain, tokoh dalam puisi tersebut memilih berdamai dengan dirinya sendiri, bangkit dari keterpurukan, dan menemukan kembali harapan melalui lingkungan yang mampu menerima dirinya apa adanya. Puisi ini juga mengangkat fenomena people pleaser yang menjadi representasi pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak orang, khususnya generasi muda yang kerap mengorbankan dirinya demi memenuhi ekspektasi orang lain.
Menurut Atikah, pemilihan tema tersebut merupakan bentuk eksplorasi terhadap sisi lain dalam dirinya sebagai penyair. Ia sengaja menghadirkan nuansa yang lebih tenang di tengah dominasi pertunjukan yang sarat dengan kemarahan dan kritik sosial. Baginya, di sela berbagai kisah tentang luka dan ketidakadilan, penonton juga perlu diingatkan bahwa selalu ada ruang untuk pulih dan menemukan harapan baru. Kehangatan yang dihadirkan melalui puisinya menjadi penyeimbang sekaligus penegasan bahwa kehidupan tidak hanya dipenuhi kepedihan, tetapi juga kesempatan untuk kembali bertumbuh.
Melalui berbagai penampilan yang disuguhkan, Selebrasi Hari Puisi 2026 menunjukkan bahwa puisi tetap memiliki relevansi yang kuat di tengah kehidupan masyarakat modern. Sastra tidak hanya menjadi ruang untuk mengabadikan pengalaman, tetapi juga berperan sebagai media yang mampu menyuarakan keresahan, menyampaikan kritik, serta membangun empati terhadap berbagai persoalan sosial. Dalam konteks tersebut, puisi hadir sebagai jembatan yang menghubungkan pengalaman personal dengan realita masyarakat.
Pada akhirnya, Selebrasi Hari Puisi 2026 bukan sekadar perayaan tahunan untuk mengenang Hari Puisi, melainkan sebuah ruang pertemuan antara sastra, seni, dan kehidupan. Melalui kolaborasi berbagai komunitas serta keberagaman karya yang dipentaskan, kegiatan ini berhasil memperlihatkan bahwa puisi masih memiliki tempat penting sebagai media refleksi, dialog, dan perubahan sosial. Diharapkan, kegiatan ini dapat terus menjadi wadah bagi lahirnya karya-karya yang tidak hanya indah, tetapi juga mampu menyentuh kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.
Reporter: Key dan Alya
Penulis: Sabrina Keyza Allodya Ahmad