{"id":45,"date":"2025-05-23T16:19:15","date_gmt":"2025-05-23T16:19:15","guid":{"rendered":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/?p=45"},"modified":"2025-05-23T16:19:41","modified_gmt":"2025-05-23T16:19:41","slug":"fordisa-1-membedah-sosiologi-sastra-lewat-puisi-aku-karya-chairil-anwar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/2025\/05\/23\/fordisa-1-membedah-sosiologi-sastra-lewat-puisi-aku-karya-chairil-anwar\/","title":{"rendered":"Fordisa #1: Membedah Sosiologi Sastra Lewat Puisi &#8220;Aku&#8221; Karya Chairil Anwar"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"827\" src=\"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-23-at-23.16.20-1024x827.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-46\" srcset=\"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-23-at-23.16.20-1024x827.jpeg 1024w, https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-23-at-23.16.20-300x242.jpeg 300w, https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-23-at-23.16.20-768x620.jpeg 768w, https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-23-at-23.16.20-1536x1241.jpeg 1536w, https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/WhatsApp-Image-2025-05-23-at-23.16.20-2048x1654.jpeg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Divisi Humas Biro Kurasi\u00a0 baru saja melaksanakan program kerja Forum Diskusi Sastra Indonesia (Fordisa) perdana pada Sabtu, 17 Mei 2025. Fordisa yang dilaksanakan secara <em>hybrid<\/em> di selasar Gedung Serbaguna (GSG), membahas tentang puisi berjudul \u201cAku\u201d karya Chairil Anwar, dipimpin oleh Wahyu Kartika Putra, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2021 sebagai pembicara.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan Fordisa diawali dengan pembacaan puisi oleh Kartika. Ia membacakan puisi \u201cAku\u201d dengan penghayatan yang penuh makna. Kartika mengakui bahwa kegemarannya membaca puisi dimulai sejak ia duduk di bangku kelas 2 SMP.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPuisi merupakan gerbang utama saat masuk sastra. Dimulai dari SMP kelas 8 saat diperintah oleh guru baca puisi \u2018Aku\u2019, dan mulailah mencintai sastra dan menjadi sering membaca puisi,\u201d ujar Kartika.<\/p>\n\n\n\n<p>Kartika mengawali pembahasan sosiologi sastra dalam puisi \u201cAku\u201d tentang historis pengarangnya, Chairil Anwar yang lahir di Medan dengan orang tua yang memiliki strata sosial tinggi serta pemegang tradisi yang kental. Menurut Kartika, Chairil Anwar ingin hidup lebih bebas. Ia hidup dalam kemiskinan dan tidak menerima bantuan dari orang tuanya karena memilih jalan hidup yang berbeda.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat dari sisi historis sosiologi pengarang, Kartika menginterpretasikan bait-bait puisi tersebut sebagai bentuk kebebasan yang Chairil Anwar dambakan terhadap kekangan keluarga.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Kalau sampai waktuku<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>\u2018Ku mau tak seorang\u2018kan merayu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Tidak juga kauTak perlu sedu sedan itu<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Aku ini binatang jalang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Dari kumpulannya terbuang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pada bait tersebut, Kartika menginterpretasikan sebagai seseorang yang ingin hidup bebas. Baris \u201cDari kumpulannya terbuang\u201d diinterpretasikan bahwa ia dikucilkan dari keluarganya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Biar peluru menembus kulitku<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Aku tetap meradang menerjang<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Bait di atas diinterpretasikan sebagai penderitaan kemiskinan Chairil Anwar waktu di Batavia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Luka dan bisa kubawa berlari<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Berlari<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Hingga hilang pedih peri<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Dan aku akan lebih tidak perduli<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><em>Aku mau hidup seribu tahun lagi.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pada bait tersebut diinterpretasikan sebagai kegigihan pengarangnya dalam menjalani hidupnya, serta majas metafora pada baris \u201cAku mau hidup seribu tahun lagi\u201d, sebagai perandaian kehidupan yang layak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kartika juga membahas interpretasi puisi \u201cAku\u201d dalam tiga zaman, yaitu zaman revolusi sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, dan masa kini. Pada revolusi sebelum kemerdekaan, puisi tersebut digunakan sebagai senjata revolusi untuk menyemangati pejuang supaya gigih mempertahankan eksistensi ke negaranya dalam menumpas kolonial. Bait \u201cKalau sampai waktuku, \u2018Ku mau tak seorang\u2019kan merayu, Tidak juga kau\u201d diinterpretasikan sebagai bom waktu atau sebuah rasa di mana bangsa Indonesia tidak mau kalah dengan penjajah. Selanjutnya, bait \u201cAku ini binatang jalang, Dari kumpulannya terbuang\u201d diinterpretasikan sebagai sebuah pribumi yang dikucilkan kolonial.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa setelah kemerdekaan sekitar tahun 1966-1998, puisi \u201cAku\u201d diinterpretasikan sebagai perlawanan kepada penindasan ideologi oleh bangsa Indonesia sendiri. Pada masa kini, puisi \u201cAku\u201d diinterpretasikan sebagai eksplorasi kedirian dan menunjukkan perlawanan kepada penyakit di zaman sekarang, khususnya <em>mental health<\/em> yang mengenai seseorang agar pulih dari penyakit itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Puisi ini dimaknai sebagai ketidaknyamanan dalam suatu lingkungan entah itu dalam keluarga, negara, maupun diri sendiri. Puisi \u201cAku\u201d yang sangat melegenda menunjukkan bagaimana Chairil Anwar disebut sebagai pelopor puisi modern. Menurut Kartika, Chairil Anwar dikatakan sebagai pelopor puisi modern karena penggunaan bahasa yang lugas, peletakkan tipografi tidak lengkap, menciptakan nada pada penegasan di akhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Kartika, pembedahan karya sastra seperti ini berarti mencoba untuk memahami fenomena dunia yang diciptakan pengarang sebagai acuan realitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada acara perdana ini, Kartika membagikan perasaan senangnya diundang sebagai pembicara. Ia mengaku lingkungan diskusi tersebut memberinya perasaan seperti kembali ke rumah. Selain itu, Kartika juga turut menyampaikan harapannya agar Fordisa bisa membuka ruang diskusi yang lebar bagi mahasiswa Sastra Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya rasa untuk iklim diskusi yang dilakukan ini bagus sekali, melihat biro sebelumnya kurang efektif. Ini menjadi harapan baru untuk mewadahi ruang diskusi teman-teman Sastra Indonesia,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: Arih Azzahrah dan Amalia Vidhyana <br>Reporter: Arih Azzahrah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Divisi Humas Biro Kurasi\u00a0 baru saja melaksanakan program kerja Forum Diskusi Sastra Indonesia (Fordisa) perdana pada Sabtu, 17 Mei 2025. Fordisa yang dilaksanakan secara hybrid di selasar Gedung Serbaguna (GSG), membahas tentang puisi berjudul \u201cAku\u201d karya Chairil Anwar, dipimpin oleh Wahyu Kartika Putra, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2021 sebagai pembicara. Kegiatan Fordisa diawali dengan pembacaan&hellip;&nbsp;<a href=\"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/2025\/05\/23\/fordisa-1-membedah-sosiologi-sastra-lewat-puisi-aku-karya-chairil-anwar\/\" rel=\"bookmark\"><span class=\"screen-reader-text\">Fordisa #1: Membedah Sosiologi Sastra Lewat Puisi &#8220;Aku&#8221; Karya Chairil Anwar<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"neve_meta_sidebar":"","neve_meta_container":"","neve_meta_enable_content_width":"","neve_meta_content_width":0,"neve_meta_title_alignment":"","neve_meta_author_avatar":"","neve_post_elements_order":"","neve_meta_disable_header":"","neve_meta_disable_footer":"","neve_meta_disable_title":"","_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-45","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48,"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45\/revisions\/48"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kmsi.fib.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}